• Cyber Media News Coverage Guidelines
  • Management
  • About Us
  • Contact Us
Travelling Indonesia
Advertisement
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS
No Result
View All Result
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS
No Result
View All Result
Travelling Indonesia
No Result
View All Result
Home Art & Culture

Laliq Ugal, Ritual Mencari Keberkahan dari Lahan Baru

Beno Alfredo by Beno Alfredo
July 3, 2023
in Art & Culture
Laliq Ugal, Ritual Mencari Keberkahan dari Lahan Baru

Tradisi laliq ugal suku Dayak. (Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Travelling Indonesia – Masyarakat adat Dayak Bahau mempunyai tradisi unik menyangkut ritual membersihkan dan menyucikan tanah di awal tahun yang bernama laliq ugal.

Tradisi awal tahun ini bertujuan agar tanaman yang ditanam bisa tumbuh subur sehingga masyarakat bisa sehat dan sejahtera.

Tradisi yang diyakini berasal dari kepercayaan manusia kepada dewi kesuburan ini memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama dalam ritual adat laliq ugal adalah membuka lahan. Membuka lahan yang dimaksud adalah dengan menyucikan tanah secara umum, lalu membagi-bagikannya berdasarkan keluarga.

Baca:

  • Sate Klathak Pak Pong, Sate Legendaris di Yogyakarta
  • Pulau Pari Kepulauan Seribu, Surga Tersembunyi di Tengah Laut
  • Ritual Karia, Tradisi Pingitan Para Gadis Muna

Setelah membuka lahan, tahapan selanjutnya adalah melakukan upacara kecil dengan meletakkan delapan telur ayam kampung di atas bambu. Hal tersebut dilakukan sebagai simbol laporan kepada leluhur bahwa masyarakat Dayak Bahau sedang membuka lahan.

Ritual dilanjutkan dengan mengorbankan seekor anak ayam dan memotong anjing atau babi untuk dilihat hatinya. Prosesi ini menyangkut ramalan masa mendatang. Jika hati pada hewan yang dikorbankan tidak cacat atau tidak terdapat noda, pembukaan lahan akan berjalan lancar dan hasil panen yang didapatkan akan bagus.

Menurut Blawing, salah satu pemimpin adat Suku Dayak Bahau, ritual-ritual kecil juga akan dilakukan jika sepanjang proses menanam padi terdapat hama yang mengganggu. Ritual yang biasa dilakukan untuk mengusir hama dinamakan dengan kelang helung. “Ritual tersebut dilakukan dengan membuang air suci ke sungai. Ritual ini bertujuan agar hama tersebut hilang dan lebur di sungai, sehingga air kembali ke persawahan dengan membawa berkat,” ungkap Blawing.

Kepercayaan kepada roh para leluhur ditunjukkan dengan meletakkan delapan butir telur untuk mendapatkan respon dari para leluhur. Respon tersebut digambarkan dalam tarian topeng yang biasa disebut dengan tari hudoq. Masyarakat adat Suku Dayak Bahau meyakini dalam setiap pementasan tari hudoq terdapat roh para leluhur di dalamnya.

Tari hudoq merupakan penyamaran roh leluhur, sehingga terjadi dialog dua arah antara masyarakat yang membuka lahan dengan roh para leluhur. Tarian ini diiringi oleh berbagai alat musik seperti gendang dan alat musik tradisional Dayak lainnya.

Setelah padi menguning, biasanya para muda-mudi melakukan permainan gangsing tradisional dengan menggunakan biji coklat yang sudah kering dan keras. Biji coklat tersebut kemudian dililitkan pada tali tambang yang panjang dan besar. Setelah itu, biji coklat dilempar sehingga berputar dengan cepat di lantai.

Pemain lain berusaha merubuhkan gangsing yang sedang berputar dengan gangsing miliknya. Tidak ada nilai menang dan kalah pada permainan ini. Kepuasan para pemain adalah ketika berhasil merubuhkan gangsing milik pemain lain.

Ketika padi sudah siap dipanen, saatnya kesibukan bagi kaum perempuan. Mereka sibuk memanen padi, membersihkannya, menyimpannya sebagai cadangan pangan di lumbung padi yang sudah disiapkan. Begitulah proses dan tahap-tahap pada ritual adat Suku Dayak Bahau menyangkut pembukaan lahan untuk pertanian.

Dapatkan sejumlah berita terkini setiap harinya hanya di Travelling Indonesia, dan jangan lupa follow sejumlah akun media sosial kami; Instagram, Facebook, Twitter dan TikTok.

Tags: Dayak BahauLaliq UgalPeta Wisata IndonesiaSeni dan BudayaTravelling Indonesia
Previous Post

Tips Liburan Menyenangkan Sesuai Isi Kantong

Next Post

Pemandian Sulimatan, Wisata Air Tawar di Pulau Rote

Related Posts

Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores
Art & Culture

Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores

August 31, 2026
Kampung Adat Sade Bukan Sekadar Destinasi Wisata
Art & Culture

Kampung Adat Sade Bukan Sekadar Destinasi Wisata

August 28, 2026
Tari Melinting, Warisan Budaya Kerajaan Lampung
Art & Culture

Tari Melinting, Warisan Budaya Kerajaan Lampung

July 24, 2026
Rumah Honai, Bangunan Ramah Lingkungan Adat Papua
Art & Culture

Rumah Honai, Bangunan Ramah Lingkungan Adat Papua

July 23, 2026
Tari Busak Baku, Simbol Keindahan dan Harmoni Dayak Lundayeh
Art & Culture

Tari Busak Baku, Simbol Keindahan dan Harmoni Dayak Lundayeh

July 23, 2026
Belajar Kearifan Lokal Polewali Mandar Melalui Kacaping
Art & Culture

Belajar Kearifan Lokal Polewali Mandar Melalui Kacaping

August 22, 2025
Next Post
Pemandian Sulimatan, Wisata Air Tawar di Pulau Rote

Pemandian Sulimatan, Wisata Air Tawar di Pulau Rote

Popular

  • Ilustrasi Kain Besurek Bengkulu

    Kain Besurek Bengkulu, Keindahan Batik Bermotif Kaligrafi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengulik Tradisi Begawi Adat Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Keberagaman Pakaian Adat Kerajaan Mataram Kuno

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Boleh Pinjam Bus TNI AD Untuk Studi Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tari Tabot, Ilustrasi Perlawanan Masyarakat Bengkulu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Recent News

Paspor Wisata Batavia Heritage Edisi Pertama Resmi Diluncurkan

Paspor Wisata Batavia Heritage Edisi Pertama Resmi Diluncurkan

September 1, 2026
FLONA 2026 Jadi Ruang Belajar dan Rekreasi Keluarga

FLONA 2026 Jadi Ruang Belajar dan Rekreasi Keluarga

September 1, 2026
Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia

Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia

August 31, 2026
Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores

Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores

August 31, 2026
Travelling Indonesia

Follow Us

  • Cyber Media News Coverage Guidelines
  • Management
  • About Us
  • Contact Us

All Rights Reserved by travellingindonesia.com © 2022

No Result
View All Result
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS

All Rights Reserved by travellingindonesia.com © 2022