• Cyber Media News Coverage Guidelines
  • Management
  • About Us
  • Contact Us
Travelling Indonesia
Advertisement
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS
No Result
View All Result
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS
No Result
View All Result
Travelling Indonesia
No Result
View All Result
Home Food

Empal Gentong, Hasil Akulturasi Budaya

Beno Alfredo by Beno Alfredo
May 17, 2022
in Food
Empal Gentong, Hasil Akulturasi Budaya

Empal Gentong - Dok. Batiqa Hotel Cirebon

Share on FacebookShare on Twitter

Travelling Indonesia – Menginjakkan kaki di Cirebon kurang lengkap kalau belum makan empal gentong. Sajian olahan daging khas kota Udang ini, kini dapat dinikmati di berbagai kota besar Indonesia. Namun mencicipi empal gentong langsung di Cirebon tentu memberikan pengalaman yang berbeda.

Sekilas empal gentong terlihat seperti soto karena warna kuah kuningnya. Meski berasal dari Cirebon, empal gentong bukanlah kuliner asli Cirebon.

Dalam sejumlah catatan, makanan ini diperkirakan muncul pada abad ke-15 masehi dan dipercaya sebagai media penyebaran agama Islam di Cirebon. Keyakinan tersebut diperkuat dengan bahan utamanya.

Pada awal kemunculannya, empal gentong dibuat dengan menggunakan daging kerbau. Pemilihan jenis daging ini karena pada masa itu masyarakat Cirebon banyak menganut agama Hindu. Sementara sapi merupakan hewan sakral di agama tersebut sehingga tidak diperkenankan untuk dikonsumsi. Sebagai gantinya, makanan ini terbuat dari daging kerbau.

Sejarah Empal Gentong

Empal Gentong Cirebon

Mengutip laman KBBI, kata “empal” merujuk pada daging yang dipotong pipih kemudian direbus dan dibumbui lalu digoreng. Sedangkan bagaimana daging sapi itu diolah, empal gentong merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India dan juga Cina.

Kuah kental seperti gulai merupakan hasil akulturasi budaya masakan Arab dan India. Sedangkan penggunaan jeroan merupakan merujuk pada bahan makanan khas Tionghoa. Cita rasa khas Nusantara hadir lewat bumbu dan rempah yang digunakan.

Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu.

Proses memasak makanan ini membutuhkan waktu yang sangat lama, minimal lima jam. Poses memasak yang lama membuat empal gentong di Cirebon memiliki rasa yang lezat. Bumbu di dalamnya meresap sempurna dan tekstur dagingnya juga matang dan empuk.

Bahan Empal Gentong

Panduan Rekomendasi Kuliner Mudik Sepanjang Jalur Pantura (Part I)

Empal gentong merupakan makanan yang tersebar Cirebon. Jika dilihat sekilas akan banyak yang mengiranya sebagai gulai. Kedua makanan tersebut memang mirip, namun sebenarnya bereda baik dari bumbu atau cara memasaknya.

Bahan-bahan empal gentong itu sendiri cukup lumayan banyak. Bahan utamanya daging sapi, terus ada daun jeruk, cengkih, kayu manis, kapulaga, lengkuas, jahe, daun salam, serai, kunyit, kucai, bawang goreng, dan kelapa setengah tua.

Tags: CirebonEmpal GentongJawa BaratKulinerLocal FoodPeta Wisata IndonesiaTravelling Indonesia
Previous Post

Daya Pikat Tarian Adat Papua 

Next Post

Benteng Vredeburg, Saksi Bisu Sejarah Yogyakarta

Related Posts

Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia
Food

Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia

August 31, 2026
Amanaia Jadi Pilihan Utama Destinasi Kuliner Keluarga
Food

Amanaia Jadi Pilihan Utama Destinasi Kuliner Keluarga

August 29, 2026
Penikmat Kambing Wajib Cicipi Tengkleng Pak Manto
Food

Penikmat Kambing Wajib Cicipi Tengkleng Pak Manto

July 24, 2026
Sate Tanjung, Kuliner Lezat Berbahan Ikan Khas Lombok Utara
Food

Sate Tanjung, Kuliner Lezat Berbahan Ikan Khas Lombok Utara

July 24, 2026
Perkedel Nike, Kuliner Khas dari Perairan Gorontalo
Food

Perkedel Nike, Kuliner Khas dari Perairan Gorontalo

February 5, 2026
Babat Gongso, Jejak Tersisa Cheng Ho Dalam Kuliner Semarang
Food

Babat Gongso, Jejak Tersisa Cheng Ho Dalam Kuliner Semarang

August 19, 2025
Next Post
Benteng Vredeburg, Saksi Bisu Sejarah Yogyakarta

Benteng Vredeburg, Saksi Bisu Sejarah Yogyakarta

Popular

  • Mengulik Tradisi Begawi Adat Lampung

    Mengulik Tradisi Begawi Adat Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Boleh Pinjam Bus TNI AD Untuk Studi Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tari Tabot, Ilustrasi Perlawanan Masyarakat Bengkulu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Keberagaman Pakaian Adat Kerajaan Mataram Kuno

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 3 Kreasi Tari Tortor, Warisan Budaya Batak Toba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Recent News

Paspor Wisata Batavia Heritage Edisi Pertama Resmi Diluncurkan

Paspor Wisata Batavia Heritage Edisi Pertama Resmi Diluncurkan

September 1, 2026
FLONA 2026 Jadi Ruang Belajar dan Rekreasi Keluarga

FLONA 2026 Jadi Ruang Belajar dan Rekreasi Keluarga

September 1, 2026
Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia

Ikan Bakar Bobara, Rasa Autentik dari Timur Indonesia

August 31, 2026
Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores

Desa Bena, Kampung Adat Tertua di Flores

August 31, 2026
Travelling Indonesia

Follow Us

  • Cyber Media News Coverage Guidelines
  • Management
  • About Us
  • Contact Us

All Rights Reserved by travellingindonesia.com © 2022

No Result
View All Result
  • HOME
  • DESTINATION
  • SPORT TOURISM
  • FOOD
  • ART & CULTURE
  • HOTEL
  • TRAVEL
  • EVENT
  • MERCHANDISE
  • HITS

All Rights Reserved by travellingindonesia.com © 2022